LINKS



PENCARIAN DATA

ONLINE ADMIN

Ketua Umum

Sekretaris Umum

Bendahara Umum

Admin


A D M I N

PENGUNJUNG

094181
Hari iniHari ini1
Minggu IniMinggu Ini211
Bulan IniBulan Ini967

MORIA DAN HARAPANNYA


Sebuah Refleksi, Pergumulan dan Harapan Moria

Dalam rangka Pencanangan Tahun Peningkatan Teologi, Spiritualitas Dan Mutu Ibadah

Pdt. Suenita Sinulingga, MTh

Siapakah Moria?

Moria adalah sebuah perkumpulan perempuan di tengah gereja GBKP.  Perempuan, tidak hanya yang sudah menikah tetapi juga yang belum menikah namun sudah sudah berusia 25 tahun dan  bersedia menjadi anggota moria. Persekutuan ini pada tahun 2010 sudah berulang tahun  yang ke-53. Artinya secara organisasi ia sudah cukup dewasa. Demikian juga dengan program yang di buat selama ini diharapkan sudah mampu menampung kebutuhan dan aspirasi moria disetiap tingkatannya meski masih banyak kekurangan disana sini. Sebagai sebuah perkumpulan perempuan tentuna dinamika yang ada didalam organisasi ini sangat kental dengan karakter dan prilaku perempuan, khususnya perempuan Karo.

Perempuan Karo sudah banyak mengambil bagian dalam menata kehidupan bersama, menjadi ibu bagi keluarga dan sudah mulai mampu berperan banya diranah publik. Sudah turut mengambil bagian dalam berbagai pengambilan keputusan. Hal ini tidak terjadi begitu-begitu saja, tetapi ini melalui proses yang cukup panjang, penuh perjuangan. Meski dulu ia pernah minder menjadi perempuan karena memang tidak ada kesempatan untuk berkembang, ia dihambat oleh budaya yang di pahami dan di akui didalam keluarga tetap sekarang hal tersebut sudah berkurang. Hal ini disebabkan oleh perubahan sosial yang terjadi di masyarakat, gereja dan keluarga sehingga mereka sudah mengenyam pendidikan yang tinggi. Melalui pengembangan pemahaman akan Firman Tuhan dan pemberdayaan yang diberikan kepada moria telah menempa mereka menjadi perempuan yang tangguh. Dan mereka semakin berkarya didalam gereja. Perempuan Karo sudah banyak mampu bertelogi dalam konteks hidupnya, spiritualitasnya semakin bagus, yang tampak dalam kehidupan ibadahnya.

 

Meski didalam Alkitab, tidak banyak yang mencatatkan peran perempuan dalam kehidupan beribadah tetapi kisah beberapa orang perempuan dapat menolong perempuan untuk lebih mengenal dirinnya, apa yang telah dan akan dilakukannya dalam hidupnya.  Masyarakat patriarkhi memberi kekuasan untuk memimpin ibadah kepada laki-laki. Namun demikian Alkitab juga bagaimana kehidupan spiritualitas perempuan, perempuan juga berteologi dan sebenarnya itu adalah sebuah ibadah, penyembahan kepada Allah.

  1. Rahab, seorang perempuan sundal, namun kehidupan lamanya tidak diperhitungkan Tuhan. Ia berteologi, ketika mata-mata yang masuk ke Yerikho ia sembunyikan didalam rumahnya, ia berani memberi sebuah pernyataan ’ "Aku tahu, bahwa TUHAN telah memberikan negeri ini kepada kamu .......... bahwa TUHAN telah mengeringkan air Laut Teberau di depan kamu......Maka sekarang, bersumpahlah kiranya demi TUHAN, bahwa karena aku telah berlaku ramah terhadapmu, kamu juga akan berlaku ramah terhadap kaum keluargaku; .....membiarkan hidup ayah dan ibuku, saudara-saudaraku yang laki-laki dan yang perempuan dan semua orang-orang mereka dan bahwa kamu akan menyelamatkan nyawa kami dari maut."(Yos 2:9-14) Pengakuannya akan Allah Israel menyatakan bahwa ia sudah berteologi. Melalui itu ia menanam sebuah harapan yang akan dan pasti akan dituainya. Akhirnya namanya dicatat sebagai seorang yang beriman sejajar dengan Habel, Enoch, Nuh, Abraham, Isak, Jakub dan lain sebagainya (Ibrani 11:1-40).
  2. Miriam, saudara perempuan Musa dan Harun, ketika bangsa Israel sudah selamat melewati laut Merah dan ketika tentara Mesir mencoba melewatinya maka bersatu kembali air yang sudah terpisah sebelumnya. Perbuatan Tuhan tersebut mereka imani sebagai keberpihakan Tuhan terhadap Israel. Perbuatan Allah tersebut mereka sambut dengan pujian dan tarian, yang mereka berikan untuk kemulian nama Tuhan. Miryam, spontan dan mencoba sebuah ibadah dengan memukul rebana dan bernyanyi, perbuatannya tersebut diikuti  oleh perempuan-perempuan lainnya.  (Keluaran 15:19-21) Miriam mampu membangkitkan emosi orang lain untuk beribadah dan nyatalah kualitas ibadah mereka ditengah bangsa Israel sehingga tercatat disejarah kehidupan umat Tuhan.
  3. Tabita, seorang perempuan yang dengan kemampuannya, potensi yang ada padanya tetap melayani Tuhan. Pelayanannya dengan membuatkan baju untuk para janda(Kisah 9: 36-43). Nyatalah spiritualitasnya, dengan hubungan yang baik kepada Tuhan terasakan dan dinikmati oleh orang lain. Hal  ini adalah bentuk imannya kepada Tuhan ia nyatakan dengan aksi didalam kehidupannya.

Kisah-kisah diatas memperlihatkan bagaimana perempuan berteologi, menunjukkan spiritualitasnya dan juga dengan aktif turut ambil bagian ibadah.

 

Tujuan persekutuan kategorial Moria GBKP salah satunya membina anggota-anggotanya agar mengetahui dan mendalami Firman Tuhan secara mendalam. Oleh itu salah satu kekuatannya  selain ibadah minggu  adalah melakukan Penelahaan Alkitab (PA). Dari keempat kategorial yang ada di GBKP yakni kaum bapa  (Mamre), Pemuda (Permata) dan kebaktian anak dan remaja (KAKR), kategorial inilah yang dapat dikategorikan lebih didepan. Tampak dengan kehadiran-kehadiran moria dalam setiap kegiatan, apakah itu kebaktian minggu di gereja, dalam ibadah-badah perayaan yang dilakukan, Penelahaan Alkitab (PA). Dari segi jumlah kehadiran, moria lebih banyak hadir dan dengan demikian mereka boleh dikatakan menjadi ’tiang gereja’, menopang kegiatan gereja.

Namun kehadiran (kuantitas)  mereka kelihatannya belum sejalan dengan sikap  (gaya) hidup kekristenan meski dibandingkan dengan yang lainnya moria memiliki pergumulan, karakter, kehidupan dan kebutuhan khusus. Hal ini boleh kita perhatikan dengan kehidupan Moria sehari-harinya, baik dalam berteologi, spiritualitas dan ibadah.

  1. Berteologi, teologi kaum awam, merupakan teologi yang sering dilakukan oleh jemaat, sebab umumnya jemaat tidak mengecap pendidikan teologia. Meski pada saat sekarang ini tidak sedikit jemaat yang memasuki sekolah teologi. Namun demikian meski tidak duduk di kursi pendidikan teologi, tidak menutup kemungkinan jemaat untuk berteologi. Dimana mereka dapat berteologi sesuai dengan perjalanan dan pengalaman kehidupan mereka. Yang mana mereka memahami, merasakan bahwa Allah ada dan campur tangan dalam semua kenyataan hidupnya. Umpamanya, secara spontan seorang moria mengatakan ’Bujur (terima kasih) Tuhan, ketika jalan keluar atas persoalan hidupnya’.
  2. Spiritualitasnya Moria rajin, tekun dalam membaca Firman Tuhan, meski hal itu masih sebagian kecil yang tampak dalam masih minimnya jumlah buku renungan Paksa Teneng yang beredar dibanding dengan buku PA Moria 4000:39.500 buah, untuk tahun 2010. Meski tidak tertutup mereka membaca buku renungan yang lain. Hidup berdoa, membaca firman, melakukan retreat adalah salah satu cara meningkatkan spiritualitas. Dan moria sudah memulainya.
  3. Ibadah, merupakan bagian dari siklus kehidupan, ibadah yang di lakukan tidak hanya rutinitas setiap hari minggu pergi ke gereja, Penelahaan Alkitab tetapi juga dalam setiap ’moment’ yang spesial mereka sudah melakukan ibadah: ibadah syukuran pembabtisan anak, anak wisuda, ulang tahun kelahiran, pernikahan. Meski tingkat pelaksanaannya belum semua tetap sudah dimulai. Dalam ibadah, moria sudah memikirkan cara menyanyi yang baik, turut ambil bagian menjadi song leader didalam setiap kebaktian meski bukan moria saja yang menjadi song leder sebab ad juga permata dan mamre.

Sesuatu yang dilakukan moria dengan hal diatas belum menjadi teladan yang baik bagi orang lain. Dimana pengenalannya akan Tuhan, terkadang sebatas dirinya dan kebutuhannya saja. Kehidupan berimannya sebagian besar hanya relasi dengan Tuhan namun.

 

Sebuah Kenyataan

Di suatu siang ada beberapa orang Moria sedang berbincang di teras sebuah rumah, konteks pembicaraan mereka adalah kebaktian  minggu tadi pagi digereja.

Nd. Nggurmit : ‘Lihatlah, kenapa mesti Pt. Bp. Tutus yang harus berkhotbah setiap minggu, kan minggu kemarin juga dia yang khotbah, apa kerjaan pertua yang lain? Isi khotbahnya juga terus cerita tentang keluarganya, pengalamannya. Kan kita bosan juga’. Katanya menanggapi isi khotbah minggu.

Nd. Sangkep   : ’Tadi pulang gereja, langsung kutanya Pt. Nd. Ngikut, menurutnya, di roster yang seharusnya khotbah itu Pendeta dari klasis. Tapi enggak ada beritanya, pendeta  tidak datang. Jadi harus digantikan. Dan yang mau menggantikannya hanya Pt. Bp. Tutus, yang lain tidak bersedia’. Tuturnya menjelaskan yang diketahuinya.

Nd. Curak      : Lho... kan seharusnya setiap pertua dan diaken itu harus siap sedia, setiap saat. Harus juga dipikirkan, kalau itu-itu saja yang khotbah pasti jemaat bosan. Kita tidak mendapatkan penguatan dari gereja. Kita datang kan punya harapan, hidup kita, pikiran kita penuh dengan pergumulan. Jadi khotbah itu maunya yang menguatkan. Terus  biar khotbahnya juga bagus, setidaknya ia juga belajar, membaca buku. Tadi kan tidak nyambung, bolehlah dikatakan, kurang persiapan, coba ingat yang minggu kemarin juga seperti itu kan? Itu tandanya memang kurang pas.

Nd. Nurih       : ’Setuju... eda, bosan aku, eh kenapa pula Nd. Tedeh itu tadi didepan, jadi song leader, tapi suaranya pun seperti kecekik, gimana orang mau semangat untuk bernyanyi. Di gereja Edaku, sudah bagus kali song leadernya. Ada musiknya, pokoknya semangatlah. Aku senang kalau bergereja disitu.

Ditempat yang lain, disebuah toko, dua orang Moria juga sedang membahas pengalaman beribadah mereka tadi pagi digereja.

Nd. Ukur        : ’Pas kali ya eda, aku ingat terus yang dikhotbahkan Pendeta tadi pagi digereja kami. Tuhan itu pasti buka jalan atas setiap penderitaan dan pergumulan kita. Pengalamanku hari Rabu kemarin, beberendu yang kecil sakit, uang sudah menipis karena sudah dikirim untuk uang kuliah  beberendu yang di Bandung. Aku tidak tahu lagi harus bagai mana, meminjam kemana. Waktu di PA, ada moria disebelah rumah menceritakan kejadian itu di PA Moria,maka mereka mendoakan anak kami yang sakit itu dan mereka juga mengantar uang (diakonia) untuk berobat, dan tidak hanya diakonia yang sudah ditentukan tetapi mereka tambah’.

Nd. Jile            : ’Begitu ya, kalo di gereja kami, kalo sakit, tiga hari baru dijenguk, dan itupun kalo sudah opname, kalau belum ya tidak dilihat, tidak didoakan. Enak kali ya, pasti di PA itu sudah nyata sekali Firman Tuhan dan tentunya pengurusnya sudah sangat memahaminya’

Pengalaman diatas mungkin pernah menjadi pengalaman kita. Kehidupan orang Kristen adalah kehidupan yang beribadah. Dan ibadah itu tidak hanya menjadi komsumsi di rumah ibadah ataupun di waktu PA tetapi semua kejadian juga menjadi pokok bahasan dalam kehidupan keseharian mereka.

Pembahasan tersebut : sikap hidup, perkataan, perbuatan dan kejadian-kejadian yang ada akan mempengaruhi hidup mereka. Terkadang lebih besar keseharian seseorang akan menjadi dasar, kesaksian dan penilaian orang lain untuk dapat berteologi.

Demikianlah kehidupan jemaat mula-mula yang menyatakan kehidupan yang sangat mendukung, menolong, satu dengan yang lainnya memberi apa yang dapat ia beri. Hal tersebut menjadi kesaksian yang hidup bagi orang lain. (Kisah Rasul 2:43-47)

 

Sebuah panggilan

Hidup orang percaya adalah sebuah ibadah. Ibadah adalah kehidupan manusia. Sejak manusia hidup, siklus kehidupannya sudah ia mulai dengan ibadah. Kain dan Habil anak-anak Adam dan Hawa juga sudah melakukannya (Kej. 4: 3-7). Kehidupan bapa leluhur Israel juga  tetap beribadah. Ia mendirikan mezbah ditempat-tempat tertentu. Ia mengenal Allahnya dan ia berteologia dengan itu. Tampak juga dalam pengakuan-pengakuan mereka : Jakub menamai tempat ia bertemu dengan Allah dengan Betel  yang artinya rumah Allah (Kej. 28:19), ketika orang Israel memenangkan pertempuran dengan bangsa Filistin di Mizpa, ia mengatakan  bahwa sampai itu Tuhan sudah menolong mereka dan ia menegakkan batu dan menamainya ’batu pertolongan’. Sepanjang perjalanan bangsa Israel menuju Tanah Kanaan, kesetiaan mereka beribadah kepada Tuhan sangat dituntut sekali. Pemasmur juga berteologi tentang Allah disepajang hidupnya. Kesetiaan beribadah itu tampak dalam pengakuan Yosua dihadapan seluruh umatnya bahwa ’ia dan seluruh keluarganya hanya menyembah Tuhan saja’ (Josua 24:15).

Dalam kehidupan Jesus dan murid-muridnya juga melakukan ibadah. Yesus pergi ketempat yang sunyi dan berdoa disana (Mark.1:39), mereka  juga pergi ke rumah ibadah, Yesus juga mengajar dirumah ibadah. Dan dalam kehidupan jemaat mula-mula juga tetap menunjukkkan kehidupan yang beribadah dan berteologi dan ini tampak dalam spiritualitasnnya, mereka berkumpul (Kis. 2:1, 2:43-47, 4:32-37) Mereka juga berbagi, menolong si miskin, janda dengan mencukupkan kebutuhan mereka, pelayanan juga berkembang (Kis. 6:1-7). Juga kehidupan spiritualitas beberapa orang tampak sekali dengan menolong orang miskin ( Tabita, Kis. 9:36-39, Priskila dan Akuila yang menolong Paulus), Philemon memakali rumahnya untuk tempat beribadah.

 

Disi lain, suku-suku bangsa lainnya ada yang mempercayai berbagai bentuk hal dan mereka menyembahnya. Secara umum dapat diwakili dan dalam bentu :

  • Animisme, animisme adalah kepercayaan terhadap roh yang mendiami semua benda. Manusia purba percaya bahwa roh nenek moyang masih berpengaruh terhadap kehidupan di dunia. Mereka juga memercayai adanya roh di luar roh manusia yang dapat berbuat jahat dan berbuat baik. Roh-roh itu mendiami semua benda, misalnya pohon, batu, gunung, dsb. Agar mereka tidak diganggu roh jahat, mereka memberikan sesaji kepada roh-roh tersebut.
  • Dinamisme, dinamisme adalah kepercayaan bahwa segala sesuatu mempunyai tenaga atau kekuatan yang dapat memengaruhi keberhasilan atau kegagalan usaha manusia dalam mempertahankan hidup. Mereka percaya terhadap kekuatan gaib dan kekuatan itu dapat menolong mereka. Kekuatan gaib itu terdapat di dalam benda-benda seperti keris, patung, gunung, pohon besar, dll. Untuk mendapatkan pertolongan kekuatan gaib tersebut, mereka melakukan upacara pemberian sesaji, atau ritual lainnya.
  • Totemisme, totemisme adalah kepercayaan bahwa hewan tertentu dianggap suci dan dipuja karena memiliki kekuatan supranatural. Hewan yang dianggap suci antara lain sapi, ular, dan harimau.

Artinya manusia mempercayai bahwa diluar dirinya ada sebuah kekuatan yang diyakini mampu menolong dan menguatkannya. Dalam artian ia akan memuja,  menyembahnya  dan beribadah kepadanya.

Oleh karena itu beribadah adalah bagian dari kehidupan manusia. Dalam ibadahnya ia berteologi, karena ia mengimani Tuhan yang dia sembah dalam sebuah pengakuan. Sehingga kepercayaan tersebut mewarnai hidup dan perbuatannya. Ketekunannya beribadah adalah wujud dari spiritualiutas yang ia tunjukkan. Tidak hanya kepada Tuhan tetapi kepada dunia ini.

 

APA DAN MENGAPA?

Setiap orang mempunyai pergumulan. Besar kecilnya mungkin saja berbeda namun ketika masalah datang seiap orang merasa dan mengaku bahwa pergumulan dan penderitaannyalah yang paling berat. Maka muncullah pernyataan yang mungkin saja jadi humor ’kam pe ban la arah aku e nge’. Dalam setiap pengalaman hidup manusia  yang beriman secara umum ia akan mengaku bahwa ada kuasa lain yang turut campur didalam semua perkara yang dia alami. Itu menjadi sebuah harapan dalam keimanannya. Persoalannya, ketika harapannya itu tidak tercapai. Ketika jawaban  pergumulannya tidak seperti yang diharapkannya. Ketika orang-orang disekitarnya tidak sepeti yang dipikirkannya. Hal itu akan membuat dia mempertanyakan semuanya.

Kondisi manusia yang demikian tentunya terjadi bukan tanpa sebab. Ia menjadi demikian karena berbagai faktor. Besar harapan agar kehidupan orang Kristen akan menjadi lebih baik. Kehidupan berTuhan dan ibadahnya dapat terlihat didalam prilaku (gaya hidup) setiap hari. Kehidupan manusia dengan segala prosesnya merupakan kegiatan pembelajaran. Oleh karennya jika di ibaratkan dengan pendidikan maka bagian kognitifnya (pengetahuannya) sudah sangat cukup mereka peroleh. Hal ini nyata berapa kali mereka membaca Alkitab, mendengar khotbah dalam seminggu. Kebaktian minggu, Perpulungen Jabu-Jabu (PJJ), Penelahaan Alkitab (PA), dan kebaktian-kebaktian yang lainnya. Apakah itu ucapan syukur dan lain-lain. Hal itu mereka renungkan dan meresap kedalam hati, proses afektif, bagai mana ia memahami dan menghayati firman Tuhan dalam kehidupannya sehari-hari. Mungkin saja ketika ia mendengar firman itu ia sungguh menghayati dan memahaminya untuk sementara. Namun ketika tiba pada  tahap psikomotoriknya mereka terkendala untuk melakukanya, mempraktekkan firman yang mereka telah dengar, boleh dikatakan belum sejalan dengan firman, ia mendengar dan melakukannya. Ia masih menjadi pendengar yang baik dan belum menjadi pelaku firman yang baik.

 

Untuk melihat keadaan itu akan dicoba dengan menggunakan sebuah pisau analisis sederhana. Yaitu dengan analisa SWOT, SWOT  adalah sebuah bentuk analisa situasi dan kondisi yang bersifat deskriptif (memberi gambaran). Analisa ini menempatkan situasi dan kondisi sebagai sebagai faktor masukan, yang kemudian dikelompokkan menurut kontribusinya masing-masing. Analisa ini terbagi atas empat komponen dasar yaitu :  Strength (S), adalah situasi atau kondisi yang merupakan kekuatan dari organisasi atau program pada saat ini. Weakness (W), adalah situasi atau kondisi yang merupakan kelemahan dari organisasi atau program pada saat ini. Opportunity (O), adalah situasi atau kondisi yang merupakan peluang diluar organisasi dan memberikan peluang berkembang bagi organisasi dimasa depan. Threat (T), adalah situasi yang merupakan ancaman bagi organisasi yang datang dari luar organisasi dan dapat mengancam eksistensi organisasi dimasa depan. Berdasarkan empat komponen inilah dicoba melihat apa dan mengapa kehidupan berteologi, spiritualitas dan mutu ibadah moria tersebut. Artinya setiap hal mempunyai banyak sisi, kita tidak hanya diajak melihat kelemahan-kelemahan yang ada tetapi dalam setiap kelemahan ada banyak kelebihan (sisi positif yang dapat dikembangkan) juga dalam setiap peluang yang boleh diperjuangkan ada juga ancama-ancaman yang muncul. Untuk itu keempatnya menjadi peta kondisi kehidupan moria sehingga dengan melihat kelemahan, kekuatan, tantangan dan peluang tersebut maka akan lebih mudah untuk melakukan apa dan bagaimana kedepannya. Memperbaiki kelemahan, mengantisifasi tantangan, memperbesar kekuatan dan menggunakan peluang-peluang yang ada.

A. Kekuatan,

Teologi:

  • Tingginya tingkat kehadiran Moria dalam ibadah-ibadah, menjadi sebuah kekuatan, artinya ketika ia hadir dalam ibadah maka ia mendengar firman Tuhan, memaknainya dala hidup kesehariannya dan setidaknya memampukan dia untuk mengenal Allah lebih dalam lagi
  • Secara umum dari segi sosial dan emosional, perempuan  selalu rindu akan hal-hal yang baru artinya ia mau belajar Program-program pembinaan moria GBKP dari tingkat perpulungen sampai pusat sudah tersosialisasikan dengan baik serta program ini menjadi wadah moria untuk berteologi menjabarkan iman percaya mereka
  • Program yang ’up to date’ selalu merespon isu-isu internasional, nasional dan lokal secara cepat. Artinya, perkembangan moria melalui isi-isu tersebut dapat  membuatnya semakin mengerti akan kehidupannya sebagai orang kristen dan ini sangat diutamakan
  • Bahan PA Moria dipersiapkan dengan bahan yang up to date beranjak dari pergumulan perempuan di berbagai aspek kehidupan. Dengan demikian firman Tuhan yang mereka baca dan diskusikan diharapkan langsung menyentuh dan menjawab pergumulan mereka tersebut serta dengan metode-metode yang ada , mereka langsung mempraktekkannya.

 

Spiritualitas:

  • Beban hidup bisa menjadi sarana moria untuk semakin mendekatkan diri kepada Tuhan, berharap kepada Tuhan
  • Secara umum, perempuan lebih sensitif terhadap pergumulan sekitarnya sehingga kepeduliannya kepada sesamanya lebih tinggi dan hal ini menjadikan spiritualitas mereka lebih hidup
  • Bahan PA Moria diusahakan dan telah dipersiapkan dengan tema yang berkesinambungan selama 5 tahun setiap periodenya. Dan setiap bahan PA, di persiapkan dengan kurikulum dan benang merah yan mengalir. Bahannya menyentuh kehidupan moria dari berbagai aspek kehidupan khususna tentang peningkatan telogi, spiritualitas dan mutu ibadah dengan berbagai metode PA , agar mudah dipahami dan moria merasa memiliki Moria sudah mulai untuk melakukan retreat (PA lapangan), ibadah-ibadah meditatif yang bertujuan untuk meningkatkan kehidupan spiritualitasnya

 

 

Mutu ibadah

  • Semakin banyak moria yang turut mengambil bagian dalam ibadah baik mempersiapkan perlengkapan dan mengisi ibadah baik melali koor ataupun menjadi song leader
  • Karena kesensitifitasannya membuat moria lebih tanggap dengan  berbagai kekurangan yang ada dalam ibadah dan ia akan berusaha dan berpikir untuk memperbaikinya
  • Suasana ruangan, penatan tempat badah menjadi sebuah pendukung ibadah yang nyaman. Moria dengan karakter yang berbeda dapat saling melengkapi untuk menata ruangan ibadah

B. Kelemahan,

Teologi:

  • Sikap, prilaku yang selalu di identikkan dengan gender selalu muncul. Perempuan disatu sisi cenderung melihat dirinya dengan berbagai label yang dibangun oleh masyarakat sehingga dalam berteologi juga masih dipengaruhi oleh pemahaman tersebut. Perempuan kurang berani mengungkapkan perasaan, pemahamannya dan juga pengenalannya  tentang Tuhan
  • Pergumulan, tantangan hidup membuat tidak sedikit moria yang tidak mampu berteologi, khususnya teologi penderitaan. Terkadang mereka menyalahkan Tuhan dalam pergumulan mereka ( apakah tentang anak, penyakit, dan lain sebagainya) dan mencoba mencari penolong yang lain karena ia terpengaruhi orang lain
  • Kehidupan dan gaya hidup moria masih cenderung tidak sejalan dengan   perkataannya, artinya ketika mereka mencoba memberitakan tentang Allah, berteologi dalam hidupnya hal tersebut tidak terterima orang lain karena ia sendiri tidak menghidupi teologi tersebut

 

Spiritualitas

  • Moria belum mampu untuk mendaratkan pemahaman mereka tentang kehidupan mereka sesuai dengan kekristenan
  • Kesibukan dan beban kerja yang di alaminya sehingga waktu sudah sangat sedikit bagi manusia, sehari terlalu singkat dan tidak cukup dengan 24 jam. Kondisi itu membuat kehidupan spiritualitas semakin kering dan sedikit sekali kesempatan untuk ’menyiramnya’.
  • Ketekunan mereka dalam membahas firman Tuhan, kegereja dan mejadi aktifis gereja terkadang tidak sejalan dengan sikap (gaya) hidup kekristenannya artinya yang mereka lakukan terkadang hanya karya kata bukan karya nyata (band. Yak. 2:14-17)
  • Persekutuannya dengan Allah didalam ibadah dan pembacaan firman terkadang belum terwujud di dalam persekutuan yang indah dengan sesamanya. Terkadang masih terjadi pengkotak-kotakan, teman kompak dan terkadang ada yang merasa asing didalam persekutuan tersebut, apa lagi dipengaruhi oleh karakter  dan kebudayaan  Karo yang masih melekat dalam dirinya.

 

Mutu ibadah

  • Didalam ibadah terkadang ’jemaat’ belum merasakan menjadi sebuah keluarga sehingga ada yang merasa asing ketika bergabung didalam ibadah
  • Persiapan ibadah yang kurang sehingga terkadang jemaat tidak dapat menikmati ibadah tersebut, apakah jam yang molor (telat dimulai), juga nyanyian yang kurang dikuasai apa lagi tidak ada song leader, jemaat yang terlambat, dianggap sebagai suasana ibadah yang kering,
  • Monotonnya ibadah yang dilaksanakan sehingga kurang terasa hangat ketika beribadah sehingga ada rasa bosan dan jenuh
  • Belum tersedianya perlengkapan ibadah yang baik apakah itu sound sistem (mik), musik gereja, song leader yang sudah bernyanyi dengan baik. Suasana ruangan gereja yang belum tertata dengan indah, rapi, nyaman untuk beribadah
  • Pergumulan hidup, penyakit, beban ekonomi dan ketidakharmonisan keluarga membuat moria mudah dipengaruhi oleh kepercayaan yang lama (animisme, dinamisme dan lain sebagainya). Mungkin bentuk-bentuk yang mereka dilakukan dengan kemasan yang baru.

C. Peluang

Teologi:

  • Berbagai kondisi kehidupan (penderitaam, bencana, suka, dan lain sebagainya) menjadi wadah serta kesempatan untuk mengembangkan teologi mereka tentang Allah yang hadir dalam semua aspek kehidupannya
  • Dekade yang dicanangkan secara internasional memberi peluang kepada perempuan untuk lebih berperan dan mempunyai kesempatan dalam banyak hal
  • Teologi-teologi yang memunculkan peran perempuan ( teologi feminis, teologi of womb) adalah memberi kesempatan perempuan untuk lebih berteologi dan perempuan Karo dapat memaknainya lebih
  • Belum adanya teologi yang dirumuskan dalam GBKP sehingga dengan pengalaman perempuan yang ada dapat menjadi sebuah pengalaman untuk merumuskan menjadi teologi GBKP, sumbangsih perempuan diharapkan sekali
  • Secara organisasi jejaring yang dibangun moria dengan organisasi lain baik itu LSM, komisi perempuan gereja lain dapat menjadi wadah moria untuk berteologi

Spiritualitas:

  • Tersedianya berbagai jenis renungan-renungan di toko buku, apakah renungan harian, renungan pagi, renungan malam dan lain sebagainya.
  • Siaran-siaran di radio ataupun di TV yang memerikan renungan ataupun khotbah dapat membantu moria untuk mengembangkan spiritualitasnya
  • Keadaan dan kenyataan hidup di sekitar kehidupan moria yang tidak sedikit hidup dalam penderitan, beban kehidupan, kemiskinan, bencana menjadi wadah menyatakan spritualitasnya. Bahwa kehidupan yang dekat dengan Tuhan tidak hanya bersifat vertikal tetapi juga horizontal, kepada sesama manusia. Disanalah teruji kehidupan spiritualitas moria yang rajin ke gereja, PA dan lainnya.

 

Mutu ibadah

  • Perubahan sosial yang ada didalam masyarakat dapat memberi peluang kepada perempuan (moria) untuk meningkatan ketrampilan dan kepedulian mereka terhadap lingkungan dan kebutuhan hidup bersama terutama didalam ibadah.
  • Adanya ibadah-ibadah alternatif yang sudah dilakukan dan lebih menggugah emosional dan secara karakter perempuan lebih mudah menghayati dan menghidupi situasi yang ada tersebut
  • Moria terbuka dengan model ibadah alternatif serta tingginya keiikut sertaan moria dalam ibadah-ibadah membuat ia dapat dan ikut berperan
  • Budaya Karo yang dekat sekali dengan musik dapat membuat ibadah-ibadah yang kontekstual dan moria dapat memberi sumbangan didalamnya

D. Ancaman

Teologi

  • Adanya moria yang suka ‘jajan rohani’ sehingga mengakibatkan pemahaman teologi yang sedikit bergeser daripada yang ada di GBKP. Umpamanya pemahaman yang berkembang tentang teologi sukses. Sehingga baginya ia bukanlah orang yang diberkati tetapi orang yang terkutuk karena memahami penderitaannya sebagai hukuman Tuhan.
  • Munculnya banyak gereja atau aliran-aliran yang ada sampai kedesa-desa, dengan berbagai teologinya terkadang membuat moria tidak mempunyai warna lagi apalagi teologi GBKP belum jelas dirumuskan
  • Perubahan sosial yang terjadi dalam masyarakat dapat mengancam pemahaman ataupun bergesernya kebutuhan manusia dan meminggirkan kebutuhan mereka terhadap Tuhan dan mencari kesenangan duniawi tanpa memikirkan Tuhan
  • Kurang memahami teologi penderitaan, sebagai pencerminan kehidupan yang meneladani Yesus Kristu sebagai Tuhan. Yang telah memberi contoh akan penderitaan yang dialamiNya untuk menyatakan kehendak Allah didalam dunia ini

 

Spiritualitas

  • Kondisi dunia yang semakin kompleks baik pergumulan dan kebutuhannya membuat moria dapat terseret ke dalam lubang hitam budaya. Gaya hidup dan prilaku yang mendunia seiring dekatnya ia dengan berbagai tawaran dunia tersebut (Hal ini di pengaruhi media umpamanya TV dan segala bentuk siarannya, jika moria tidak kuat dan mengasah spiritualitasnya). Mereka bisa saja cukup senang menikmati tawaran dunia dan hanyut didalamnya.
  • Karena kelelahan, tingginya pergumulan hidup sebagai ibu, istri, anggota masyarakat dan berbagai beban kehidupan yang dijumpai dan menderpa kehidupan mereka. Mereka sungguh mempunyai kerinduan untuk tetap menerima firman Tuhan. Dan kondisi tersebut boleh dipakai oleh ‘ajaran sesat dan menyesatkan mereka’, (bandingkan dengan 2 Timotius 2:1-2). Ajaran tersebut bisa saja datang dari berbagai sumber apakah itu siaran TV dan pihak lainnya. Arinya munculnya berbagai ’komunitas, organisasi, kelompok’ untuk menjawab kelelahan dan kejenuhan mereka. Apa yang mereka mau bisa mereka peroleh

 

Mutu ibadah

  • Metode ibadah yang lebih menarik ditawarkan oleh gereja lain atau pun kelompok lain membuat moria terkadang merasa lebih menarik, hidup ditempat lain. Serta menganggap ibadah seperti itu lebih menjawab pergumlan mereka meski itu kepuasan sesaat. Karena adanya ‘kejenuhan’ dengan yang ada selama ini digereja asal.
  • Siaran ataupun khotbah-khotbah yang ada di TV dan radio membuat beberapa orang bisa meninggalkan ibadah dalam persekutuan yang telah dibangun, cenderung ibadah adalah ibadah pribadi, tidak bersama (persekutuan)
  • Tingginya kebutuhan hidup dan banyaknya aktifitas yang telah dibangun dalam komunitas masaryarakat dan adat membuat waktu untuk ikut dalam ibadah-ibadah semakin berkurang.

 

Gambaran ini dapat menjadi pengenalan diri moria itu sendiri baik sebagai pribadi maupun organisasi. Dengan demikian untuk kedepannya apa dan bagai mana langkah-langkah yang harus diambil dan ditempuh semakin terarah.

 

Secercah Harapan

Berteologi adalah sebuah pengalaman hidup bersama dengan Tuhan. Moria adalah perempuan kristen yang mengimani dan mengandalkan Tuhan dalam hidupnya. Kehadiran dan campur tangan Allah dalam semua aspek kehidupannya merupakan sebuah pengakuan terhadap betapa berkuasanya Allah itu dalam kehidupan manusia. Dengan demikian Moria GBKP dapat berteologi dalam semua aspek hidupnya. Ketika setiap firman itu menjadi cermin dan kekuatan dalam hidupnya, sama seperti kata pemasmur bahwa ia merenungkan firman Allah siang dan malam artinya dalam setiap pemikiran dan perbuatan tetap mengacu kepada firman. Setiap tindakannya terlebih dahulu  akan diperhadapkan kepada firman (Allah), apa kata firman Tuhan. Dengan demikian kehidupan orang kristen akan semakin baik sebab firman itu ada dan hadir secara nyata dalam kehidupan dan prilaku orang-orang percaya .

Pengalaman tentang dan bersama Allah dalam semua kenyataan hidup akan membuat moria semakin mampu berteologi. Berbagai suka dan duka dapat menjadi alat dan konteks mereka untuk berteologi, mungkin saja bukan pengalaman diri mereka sendiri tetapi dapat menjadi pengalaman bersama.

Berteologi, berspiritualitas harus nyata dalam ibadah yang tidak hanya ketika pergi ke gereja berkumpul dalam PA tetapi nyata dalam kehidupan setiap hari.

Untuk mencapai harapan ini, moria GBKP sudah memulai dengan membuat program-program yang dapat meningkatkan spiritualitas, teologi dan mutu ibadah. Khususnya melalui bahan PA tahun 2011, karena bahan PA ini yang akan dipergumulkan dan di lakukan didalam kehidupan Moria GBKP dimana pun berada. Dimana  hal ini tampak dalam kurikulum PA  Moria  tahun 2011 dengan tema umum ’ngelumbaken kiniteken’. Tentunya harus dimulai dengan pengertian dan peningkatan teologia, ibadah sehingga mampu ’melakukannya’ sebagai bentuk kehidupan spiritualitasnya. Ketiganya unsur tersebut saling menopang. Artinya, dengan berteologi akan meningkatkan spiritualitas dan spiritualitas yang semakin baik akan membuatnya lebih mampu untuk berteologi dan meningkatkan mutu ibadahnya.

Benang merah  bahan PA tersebut sebagai berikut:

a. Pengertian berteologi

b. Teologi kaum awam

  • Bahwa setiap orang bisa berteologi
  • Bagaimana proses orang ’awam’ berteologi dalam setiap keadaan
  • Apa hasil (bentuk) yang diperoleh orang yang mampu berteologi

c. Perlu sekali di lakukan peningkatan  teologi, melalui

  • Renungan (paksa teneng)
  • Membaca Alkitab
  • Bersaksi ( nuriken penggejapen, dalam PJJ)

d. Ngelumbaken kiniteken (mengoprasionalkan, melakukan, menyaksikan iman) adapun tahap-tahapnya adalah:

  • Pengertian  ngelumbaken kiniteken
  • Dasarnya
  • Panggilan orang percaya untuk melakukannya
  • Cara Moria dalam ngelumbaken kiniteken
  • Tantangan moria dalam melakukannya baik dari segi sosial, ekonomi, pekerjaan dan  budaya
  • Kekuatan moria dalam ngelumbaken kiniteken tersebut

 

e. Beribadah

  • Pengertian ibadah
  • Dasar dan panggilan moria untuk beribadah
  • Tantangan yang dihadapi dalam beribadah (monoton, rutinitas dan lain sebagainya)
  • Unsur-unsur ibadah
  • Cara dan bentuk beribadah sebagai orang kristen
  • Memperbaiki ( meningkatkan, mengembangkan kreatifitas serta aktualisasi ) dalam beribadah sehingga ibadah yang dilakukan lebih baik dan bermutu
  • Menemukan dan terbuka dengan metode ibadah yang kreatif serta BPP moria dapat menampung kreatifitas moria serta dapat membawanya sebagai pergumulan dan mengusulkannya di konven pendeta)

f. Hasil yang diperoleh dalam ngelumbaken kiniteken

  • Hidup dalam damai (tidak terpaksa) dan ibadah-ibadah yang diikuti sebagai ungkapan/ hasil dari teologinya bukan karena terpaksa
  • Hidupnya dapat menjadi damai (syalom) bagi orang lain
  • Moria menjadi semakin missioner
  • Setiap ibadah yang diikuti memberikan hasil (spiritualitas) bagi dirinya dan bagi orang lain. Ada pembaharuan hidup

 

Untuk perkembangan GBKP dimasa yang akan datang, diharapkan Moria untuk tampil didepan, baik dalam berteologi, kehidupan spiritualitasnya dan kualitas ibadah bersama semakin baik. Untuk itu dukungan bersama semua pihak akan mmbuat kehidupan orang kristen semakin baik.

  • Setidaknya setiap orang dapat meningkatkan teologinya:
    Pendeta, Pertua, diaken dan pengurus kategorial, dapat menambah pemahamannya dalam berteologi sehingga dapat memberikan kekuatan bagi jemaat.
  • Spiritualitas tua-tua dalam gereja dapat menjadi teladan bagi warga jemaat. Karena ada pemahaman jemaat kalau gurunya saja, yang dituakannya tidak memberikan teladan, apa bedanya dengan dirinya. Kehidupan beriman masih cenderung meniru
  • Ibadah yang dilakukan adalah ibadah yang hidup dan mempersembahkan kehidupan sebagai persembahan ya ng benar. Hidup kudus dan tidak menjadi serupa dengan dunia ini.

Mari belajar bersama, bergandengan tangan, saling menopang dan mendukung. Semua kategorial dan warga GBKP dimanapun berada.. ”Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga." (Matius 5:16)

Jumat, 23 Jun 2017  17:18:46

KALENDAR

June 2017
M T W T F S S
29 30 31 1 2 3 4
5 6 7 8 9 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30 1 2

AGENDA

14-16 Juni 2017 :

MPL Moria 2017

17 Juni 2017 :

Konser Moria GBKP di Batam 

 MOMO